Dalam kitab-kitab tafsir, Surat An Nuur ( 24 ) ayat 30 dijelaskan sebagai perintah Allah untuk laki-laki agar menahan pandangan mata terhadap wanita yang bukan muhrim. Ayat berikutnya, Surat An Nuur ayat 31 berisi perintah yang sama kepada wanita, juga aturan memakai jilbab dan larangan memamerkan perhiasan. Pendeknya, sebagai pedoman etika pergaulan antarjenis.
Namun, ternyata ayat tadi berimplikasi lebih jauh lagi, yakni sebagai prinsip hirarki area kota yang privat dan publik. Geoffray Broadbent, Profesor Arsitektur dari Portsmouth, Inggris, dalam buku Emerging Concept in Urban Space Design, mengatakan bahwa ketika kaum muslimin menguasai negri Spanyol selama 800 tahun, ( tahun 771 sampai 1492 ), merka membangun kota-kota yang indah, misalnya Cordoba, Granada, Toledo, Sevilla, Barcelona, Merida, dan Zaragoza. Kota-kota itu ditata sesuai prinsip -prinsip syariat Islam. Diantaraya merujuk pada Surat An Nuur tersebut, yakni pembatasan pandangan antara yang bukan muhrim.
Ciri-ciri kota muslim itu bisa dilihat dari perumahan yang mengelompok dan lorong-lorong yang berliku, kadang-kadang buntu, dengan dinding tinggi tanpa lubang jendela. Sehingga, pejalan kaki yang lewat tidak bisa melongok ke halaman. Jendela rumah yang menghadap ke jalan letaknya tinggi dan posisinya bersilangan. tidak ada yang persis berhadap-hadapan dengan jendela tetangga di seberang jalan. Hak-hak privat sangat dijunjung tinggi. Bebas membangun bertingkat berapa pun sepanjang tidak membuka jendela ke arah rumah tetangga.
Jual beli rumah harus dengan perstujuan tetangga, lebar jalan ditetapkan seukuran unta atau keledai yang bermuatan bisa berpapasan. pengadaan air untuk minum dan wudhu maupun keindahan taman kota diprioritaskan. Kota tumbuh secara alamiah, tawadu mengikuti kontur permukaan bumi. Bentuk kota menjadi nonformal, irregular. Keseluruhan ciri-ciri kota muslim taadi menjadikannya sebagai Defensible Space, kota yang kompak dan mudah dipertahankan terhadap musuh.
Gejala yang sama ditemukan di Italia, sebagaimana dinyatakan oleh Daniel N dalam The Arabs in mediaval Europe. Kaum muslimin menduduki Sardinia dan Sicilia di tahun 827, Calabria tahun 840, Taranto tahun 842, Bari tahun 847, Corsica tahun 850, dan Malta tahun 870. Mereka terus menyerang Pisa, Florence, Siena, Perugia, dan Verona bahkan sampai ke Venezia. Di tahun 846, kota Roma diserang dan pasukan muslimin berhasil merampas Altar dan perhiasan gereja St. Peter, lalu membuat benteng di tepi sungai Garigliano 90 mil di Selatan kota, dan bertahan sampai tahun 915. Selama kaum muslimin berkuasa, kota-kota terbentuk secara khas, berbeda dari tata kota Yunani yang Geometris.
Guidoni E dalam bukunya La Companente Urbanistica Islamica berhasil mengidentifikasi ciri-ciri kota Islam yang tersisa di Palermo, Trapani, Mazara, Syracuse, Agrigento, Messina, Galipoli, Altamura, dan Napoli. Jejak tata kota Islam tidak hanya pada struktur fisik, tetapi juga pada istilah, misalnya jalan Syari' menjadi Sera, Xera, Shera, atau Xuerai. Nama sungai Guadalquivir di Spanyol berasal dari bahasa Arab Wadi Al Kabir. Selat Gibraltar berasal dari Jabal Thariq, kata Borough berasal dari Al Burj.
Ketika kaum muslimin terusir dari Spanyol dan Italia, penguasa-penguasa baru mendapat inspirasi dari tata kota Islam tadi untuk diserap dalam peraturan tata kota Eropa. Menurut Crouch DP, dalam buku Spanish City Planning in North America, pengaruh konsep tata kota Islam jelas membekas dalam pemikiran orang Spanyol yang telah hidup berabad-abad di lingkungan kota Islam. Mereka mulai hidup di kota besar dan mengatur tata kota lagi setelah mengalahkan muslim di Toledo, Sevilla, dan akhirnya Granada di tahun 1492. Alur fikir itu terbawa dalam ordonansi pedoman tata kota daerah jajahan Spanyol di Amerika.
Tahun 1492, Columbus mendarat di Amerika, dilanjutkan dengan penjelajahan benua baru itu oleh kerajaan Spanyol. Santo Domingo dikuasai tahun 1511, Mexico City tahun 1530, Lima tahun 1541, Santiago tahun 1561, Salvador tahun 1551, Rio de Janeiro tahun 1676, Buenos Aires tahun 1620. Spanyol membangun benteng San Diego tahun 1769, San Fransisco tahun 1776, dan Santa Barbara tahun 1786. Tahun 1781 kota Los Angeles berdiri, dimulai dengan hanya 11 keluarga. Selama 300 tahun tidak kurang dari 350 kota baru didirikan oleh orang Spanyol di Amerika Selatan, Tengah, dan Utara. Peraturan ( ordonansi ) tata kota kolonial kerajaan Spanyol diberlakukan sejak tahun 1513. Ordonansi itu memuat ketentuan tentang ketersediaan air, arah rumah, jumlah minimal tetangga, pembagian kavling, dan lebar jalan. Juga ketentuan yang mengharuskan adanya alun-alun di pusat kota, dan disekitarnya diberi arcade untuk para pedagang.
Di alun-alun harus dibangun gereja sebagai pusat kristenisasi suku Indian asli. Ini mirip konsep Islam dengan masjid sebagai pusat dakwah berdampingan dengan kegiatan bisnis di tengah kota. Sebelumnya, gerjea di kota-kota tua Eropa bersifat Ekslusif, semacam kuil untuk para pendeta, tidak merakyat. Baru setelah pemerintahan Islam, mereka belajar. Jane Jacobs, ahli tata kota asal New York dalam bukunya The Death and Life of Great American Cities, melontarkan konsep bahwa supaya aman, nyaman, dan bermanfaat. Kota harus selalu " hidup " dengan multi kegiatan siang dan malam, tetapi ada batas jelas antara ruang publik dan privat.
Kota-kota Islam yang ideal memenuhi syarat itu, bedanya kalau New York kesibukannya hiburan dan maksiat, penduduk kota Islam hilir mudik ke mesjid sejak pagi buta sampai malam. Berdagang dan bekerja diselingi makan dan ibadah berjamaah 5 kali sehari. Tetangga saling kenal karena rumah rapat, namun privasi tetap terjaga. Belakangan konsep perumahan dengan jalan buntu atau cul-de-sac yang berasal dari konsep kota Islam, populer kembali karena nilai privasi tinggi. Muslim memang terusir dari Spanyol dan Italia, tetapi ternyata beberapa prinsip tata kotanya iktu memberi manfaat kota-kota di Amerika. Wallahua'lam.
Baca juga : Maglev di Madinah
Guidoni E dalam bukunya La Companente Urbanistica Islamica berhasil mengidentifikasi ciri-ciri kota Islam yang tersisa di Palermo, Trapani, Mazara, Syracuse, Agrigento, Messina, Galipoli, Altamura, dan Napoli. Jejak tata kota Islam tidak hanya pada struktur fisik, tetapi juga pada istilah, misalnya jalan Syari' menjadi Sera, Xera, Shera, atau Xuerai. Nama sungai Guadalquivir di Spanyol berasal dari bahasa Arab Wadi Al Kabir. Selat Gibraltar berasal dari Jabal Thariq, kata Borough berasal dari Al Burj.
Ketika kaum muslimin terusir dari Spanyol dan Italia, penguasa-penguasa baru mendapat inspirasi dari tata kota Islam tadi untuk diserap dalam peraturan tata kota Eropa. Menurut Crouch DP, dalam buku Spanish City Planning in North America, pengaruh konsep tata kota Islam jelas membekas dalam pemikiran orang Spanyol yang telah hidup berabad-abad di lingkungan kota Islam. Mereka mulai hidup di kota besar dan mengatur tata kota lagi setelah mengalahkan muslim di Toledo, Sevilla, dan akhirnya Granada di tahun 1492. Alur fikir itu terbawa dalam ordonansi pedoman tata kota daerah jajahan Spanyol di Amerika.
Tahun 1492, Columbus mendarat di Amerika, dilanjutkan dengan penjelajahan benua baru itu oleh kerajaan Spanyol. Santo Domingo dikuasai tahun 1511, Mexico City tahun 1530, Lima tahun 1541, Santiago tahun 1561, Salvador tahun 1551, Rio de Janeiro tahun 1676, Buenos Aires tahun 1620. Spanyol membangun benteng San Diego tahun 1769, San Fransisco tahun 1776, dan Santa Barbara tahun 1786. Tahun 1781 kota Los Angeles berdiri, dimulai dengan hanya 11 keluarga. Selama 300 tahun tidak kurang dari 350 kota baru didirikan oleh orang Spanyol di Amerika Selatan, Tengah, dan Utara. Peraturan ( ordonansi ) tata kota kolonial kerajaan Spanyol diberlakukan sejak tahun 1513. Ordonansi itu memuat ketentuan tentang ketersediaan air, arah rumah, jumlah minimal tetangga, pembagian kavling, dan lebar jalan. Juga ketentuan yang mengharuskan adanya alun-alun di pusat kota, dan disekitarnya diberi arcade untuk para pedagang.
Di alun-alun harus dibangun gereja sebagai pusat kristenisasi suku Indian asli. Ini mirip konsep Islam dengan masjid sebagai pusat dakwah berdampingan dengan kegiatan bisnis di tengah kota. Sebelumnya, gerjea di kota-kota tua Eropa bersifat Ekslusif, semacam kuil untuk para pendeta, tidak merakyat. Baru setelah pemerintahan Islam, mereka belajar. Jane Jacobs, ahli tata kota asal New York dalam bukunya The Death and Life of Great American Cities, melontarkan konsep bahwa supaya aman, nyaman, dan bermanfaat. Kota harus selalu " hidup " dengan multi kegiatan siang dan malam, tetapi ada batas jelas antara ruang publik dan privat.
Kota-kota Islam yang ideal memenuhi syarat itu, bedanya kalau New York kesibukannya hiburan dan maksiat, penduduk kota Islam hilir mudik ke mesjid sejak pagi buta sampai malam. Berdagang dan bekerja diselingi makan dan ibadah berjamaah 5 kali sehari. Tetangga saling kenal karena rumah rapat, namun privasi tetap terjaga. Belakangan konsep perumahan dengan jalan buntu atau cul-de-sac yang berasal dari konsep kota Islam, populer kembali karena nilai privasi tinggi. Muslim memang terusir dari Spanyol dan Italia, tetapi ternyata beberapa prinsip tata kotanya iktu memberi manfaat kota-kota di Amerika. Wallahua'lam.
Baca juga : Maglev di Madinah

Comments
Post a Comment
Terima kasih telah berkomentar, silahkan baca untuk lebih jelasnya silahkan tanyakan